KH Muhammad Sobron Zayyan ajak umat jadikan tahun baru sebagai momentum muhasabah dan perbaikan diri

Tangsel

pressXPos.com, TANGERANG SELATAN – Pergantian tahun kerap diwarnai berbagai perayaan dan refleksi. Namun, bagi KH Muhammad Sobron Zayyan, makna tahun baru sejatinya bukan sekadar pergantian angka kalender, melainkan pengingat serius tentang nilai waktu dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Quraniyyah tersebut menegaskan bahwa memasuki tahun 2026 seharusnya menjadi momentum muhasabah diri, yakni mengevaluasi amal perbuatan sebelum kelak dihitung secara hakiki di akhirat.

Setiap Detik Waktu Adalah Amanah
Dalam pesan reflektifnya menjelang pergantian tahun, KH Sobron menekankan bahwa waktu merupakan aset paling berharga dalam kehidupan manusia. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali dan akan dimintai pertanggungjawaban.
“Setiap detik yang berubah menjadi menit, jam, dan hari adalah tanggung jawab kita. Setiap tarikan napas sejatinya menandakan berkurangnya umur,” ujar KH Sobron, Rabu (31/12/2025).

Menurutnya, kesadaran terhadap waktu akan mendorong manusia untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan berbuat. Sebab, amal saleh menjadi penentu keselamatan, sementara keburukan akan membawa dampak negatif, baik di dunia maupun di akhirat.

Pergantian Tahun Sebagai Momentum Muhasabah

Lebih lanjut, KH Sobron mengajak umat Islam menjadikan pergantian tahun sebagai waktu yang tepat untuk menghitung amal perbuatan. Ia mengutip pesan Sayyidina Umar bin Khattab yang menekankan pentingnya evaluasi diri sebelum datangnya hari perhitungan.
“Hitunglah amal perbuatan kalian sebelum nanti dihitung oleh Allah SWT,” tegasnya.

Ia menilai, sepanjang tahun 2025 setiap individu tentu memiliki catatan amal baik dan kekhilafan. Oleh karena itu, memasuki tahun 2026 harus diiringi dengan tekad kuat untuk memperbaiki diri dan meninggalkan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Ukuran Keberuntungan Seorang Hamba
KH Sobron juga menjelaskan bahwa keberuntungan seseorang tidak diukur dari pencapaian duniawi semata, melainkan dari kualitas perubahan dirinya dari waktu ke waktu.
“Orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Sebaliknya, jika hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi,” ungkapnya.

Prinsip tersebut, lanjutnya, menjadi tolok ukur sederhana namun mendalam dalam memaknai perjalanan hidup manusia.

Harapan Menuju Tahun 2026 yang Lebih Berkah

Menutup pesannya, KH Sobron berharap tahun 2026 menjadi tahun yang lebih terarah, penuh keberkahan, serta membawa manfaat nyata bagi kehidupan pribadi maupun sosial.
Ia mengingatkan agar umat tidak larut dalam euforia pergantian tahun semata, melainkan menjadikannya sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas iman, akhlak, dan amal saleh.

Pesan ini sekaligus menjadi refleksi bersama bahwa makna pergantian tahun sejatinya terletak pada kesadaran untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sebagai bekal menuju kehidupan yang lebih baik. (GR)

Tinggalkan Balasan