pressXPos.com, Tangerang – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Tangerang terus melakukan inovasi dalam pengembangan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Salah satu upaya yang saat ini mulai dikembangkan adalah budidaya maggot sebagai alternatif pakan tambahan ikan lele dan yang lainnya guna mendukung program perikanan yang telah berjalan di Rutan Kelas I Tangerang.

Kegiatan pengembangan budidaya maggot tersebut dilaksanakan pada Jumat (06/02), dan masih berada pada tahap awal pengembangbiakan. Program ini diinisiasi oleh peserta Program Magang Nasional sebagai bagian dari penguatan pembinaan kemandirian yang produktif, edukatif, dan berkelanjutan.
Pengembangan budidaya maggot ini juga merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), khususnya pada aspek kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur yang ada di lingkungan pemasyarakatan.


Kepala Rutan Kelas I Tangerang, Irhamuddin, menyambut baik pengembangan budidaya maggot tersebut. Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong ketahanan dan kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan di dalam Rutan.
“Budidaya maggot ini merupakan langkah awal yang inovatif dalam mendukung program perikanan yang sudah berjalan. Selain berpotensi menekan biaya pakan di kemudian hari, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran serta peningkatan keterampilan bagi Warga Binaan,” ujar Irhamuddin.

Maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan, khususnya lele. Selain itu, budidaya maggot juga memiliki nilai tambah dari sisi keberlanjutan lingkungan karena dapat memanfaatkan limbah organik sebagai media pakan.
Ke depan, Rutan Kelas I Tangerang akan terus mengembangkan program budidaya maggot ini secara bertahap hingga dapat dimanfaatkan secara optimal. Program ini diharapkan menjadi salah satu model pembinaan kemandirian yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran, kreativitas, serta keberlanjutan, sejalan dengan 15 Program Aksi Kemenimipas. (Wenny/GR)
