pressXPos.com, TANGERANG SELATAN — Memasuki periode ketika curah hujan berpotensi meningkat, penguatan tebing sungai menjadi salah satu pekerjaan penting dalam menjaga kawasan permukiman di Kota Tangerang Selatan. Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) menangani sejumlah titik yang membutuhkan pengamanan terhadap risiko longsor, erosi hingga genangan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan turap dan bronjong di tiga lokasi di wilayah Pamulang dan Ciputat. Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan sebelumnya meninjau langsung pekerjaan tersebut untuk melihat kondisi lapangan sekaligus memastikan penanganan yang dilakukan sesuai kebutuhan di masing-masing lokasi.

Tiga lokasi yang ditinjau pada Rabu (2/9/2026) yakni pembangunan bronjong di kawasan Perumahan Vila Pamulang, pembangunan turap di Perumahan Grand Serpong, serta pembangunan turap pada aliran kali di kawasan Perumahan Bukit Nusa Indah.
Didampingi Kepala Dinas SDABMBK Robbi Cahyadi dan Kepala Bidang Sumber Daya Air Eka Pribawa, Pilar melihat langsung metode konstruksi yang digunakan di masing-masing lokasi.
“Alhamdulillah hari ini saya mengunjungi tiga titik pembangunan yang ada di wilayah Tangsel. Yang pertama adalah Vila Pamulang, yang kedua Grand Serpong, lalu Nusa Indah,” ujar Pilar.
Menurut Pilar, pekerjaan tersebut ditujukan untuk menangani sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari longsor, pergeseran tanah akibat pengikisan aliran sungai hingga persoalan banjir.
“Di sini ada beberapa permasalahan seperti longsor, pergeseran tanah akibat pengikisan dari air sungai, lalu juga terkait penanganan banjir yang terjadi,” katanya.
Pilar juga meminta konsultan pengawas dan penyedia jasa memastikan pembangunan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan, termasuk memperhatikan kualitas material dan struktur bangunan.
“Tadi saya menitipkan secara langsung kepada konsultan pengawas dan juga penyedia, untuk dilakukan pembangunan sesuai dengan spek, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kita doakan benar-benar lancar dan benar-benar bisa memberikan solusi untuk warga di sekitar,” ujarnya.
Di Vila Pamulang, penanganan dilakukan menggunakan bronjong batu kali karena lokasi berada pada aliran Sungai Angke yang menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum. Penanganan yang dilakukan Pemkot Tangsel telah mendapatkan izin dari BBWSCC dengan metode bronjong yang bersifat semi permanen.

Kepala Dinas SDABMBK Kota Tangerang Selatan Robbi Cahyadi menjelaskan, pembangunan bronjong di lokasi tersebut memiliki panjang sekitar 164 meter dengan pagar sepanjang 145 meter. Ketinggian bronjong mencapai sekitar lima meter dari bagian pondasi hingga bagian atas.
“Secara kewenangan yang di Vila Pamulang itu tadi penanganannya ada di BBWSCC. Cuma itu memang rawan longsor kita mengamankan badan jalan yang di pinggir kali Angke. Jadi dari kementerian hanya membolehkan kita penanganan tidak permanen. Kalau bronjong itu sifatnya tidak permanen, boleh,” kata Robbi.
Penanganan berbeda dilakukan di Grand Serpong. SDABMBK membangun turap baru setinggi empat meter sepanjang 165 meter, melakukan peninggian turap eksisting hingga empat meter sepanjang 132 meter, serta membangun saluran pembuang sepanjang 429 meter.
Sementara di kawasan Bukit Nusa Indah, SDABMBK membangun turap beton bertulang pada sisi kiri dan kanan aliran kali dengan panjang sekitar 100 meter pada masing-masing sisi atau total sekitar 204 meter.
Pekerjaan tersebut dilengkapi parapet sepanjang 90 meter serta pedestrian sekaligus jalan inspeksi sepanjang 204 meter. Sejumlah bangunan pelengkap seperti pintu air dan klep tabok juga disiapkan untuk mendukung pengaturan aliran air.
Bagi warga, pembangunan infrastruktur tersebut memberikan rasa aman karena kondisi tebing sungai menjadi perhatian, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi.
Salah seorang warga, Komar, menyambut baik pembangunan turap di kawasan tersebut.
“Kami tentu menyambut baik pembangunan ini. Sebelumnya kami khawatir kalau hujan deras karena kondisi tebing bisa terkikis. Dengan adanya pembangunan turap, mudah-mudahan lebih aman dan lingkungan di sekitar juga lebih terlindungi,” ujar Komar.
Robbi mengatakan, ketiga pekerjaan tersebut ditargetkan selesai sekitar Desember 2026 sesuai durasi kontrak masing-masing yang berkisar lima hingga enam bulan.
Ia menjelaskan, kebutuhan penanganan di setiap lokasi berbeda. Di Vila Pamulang, kondisi longsor berpotensi mengancam badan jalan apabila tidak segera mendapat pengamanan.
“Rawan banjir dan ada longsor. Vila Pamulang tadi longsor. Kita lihat kan jalannya hampir tergerus sungai angke di Vila Pamulang kalau tidak ditangani, jalannya bisa amblas, longsor, berbahaya,” kata Robbi.
Dengan tiga lokasi yang memiliki karakter persoalan berbeda, SDABMBK menyesuaikan metode pembangunan dengan kondisi lapangan dan fungsi infrastruktur yang dibutuhkan. Turap beton bertulang digunakan pada lokasi yang membutuhkan penguatan struktur, sementara bronjong diterapkan di kawasan Sungai Angke sesuai ketentuan dan kewenangan BBWSCC. (Red)
